Minggu, 27 Maret 2011

Pendahuluan Tahsinul Qira'ah

          Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diterima oleh Rasulullah e, ia memiliki keagungan yang luar biasa, sehingga tiada seorangpun yang mampu menandinginya, tiada pula yang mampu membuat satu ayat semisal dengannya.[1] Ia merupakan firman Allah U yang senantiasa memberikan curahan pahala kepada setiap orang yang berinteraksi dengannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan membiasakan diri membacanya.[2]
Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah mulia yang pahalanya dilipatkan gandakan sebanyak sepuluh kali lipat kebaikan.[3] Namun, jika dilihat secara langsung, ternyata kemampuan membaca Al-Qur’an mayoritas ummat Islam Indonesia saat ini, jauh dibawah standar yang diajarkan Rasulullah e. Diantara penyebab terjadinya hal ini ialah minimnya kebiasaan membaca Al-Qur’an, serta kurangnya kesadaran akan kelemahannya dalam ilmu tajwîd, sehingga tidak ada daya tarik untuk berguru dan mendalami ilmu tersebut.
Padahal Allah U telah menjanjikan kemudahan bagi siapapun yang tergerak untuk mempelajari kitabNya. Sebagaimana penegasan Allah U dalam Al-Qur’an, bahkan terulang sebanyak empat kali[4];
”Dan sungguh telah Kami beri kemudahan bagi Al-Qur’an untuk dipelajari. Maka, adakah yang mau mempelajarinya?” 
          Artinya, siapapun yang berminat untuk mempelajari Al-Qur’an, pasti akan mendapatkan kemudahan dari Allah U. Namun, mempelajari Al-Qur’an (tahsîn & tajwîd) secara teori melalui beberapa buku, belumlah cukup. Perlu adanya talaqqi (belajar secara langsung) dari seseorang yang memiliki sanad, menguasai ilmu tersebut, dan cara inilah yang sesuai dengan sunnah.
          Nah, kehadiran buku ini, diharapkan mampu menjadi perantara yang dapat memberikan kemudahan bagi para pelajar dan pengajar Al-Qur’an untuk mengenal lebih jauh di mana letak makhraj (tempat keluar) huruf-huruf hija’iyyah secara praktis dan bagaimana cara mengucapkannya. Begitu pula dengan ilmu tajwîd dan ayat-ayat gharîbahnya serta kiat membaca Al-Qur’an dengan tartîl sebagaimana sunnahnya. Namun, sekali lagi penulis tekankan, tidaklah sempurna jika hanya mempelajari buku ini, tanpa bertalaqqi dengan ahlinya.
          Hanya kepada Allah U kita berharap rahmat dan ridhaNya. Semoga kesungguhan kita dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an mengantarkan kita untuk meraih syafaatNya. Amîn Yâ Mujîb.


Yogyakarta, 17 Ramadhan 1431 H
Penyusun,

Muhammad Solihuddin, al-Hafidz, S.Q


[1] Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” QS. Al-Isrâ’: 88
[2] “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah salat...” QS. Al-Ankabût: 45
[3] HR. At-Tirmidzi
[4] QS. Al-Qamar: 17, 22, 3, 40.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar